Organisasi ‘Pegangan’ Jusuf Kalla Atur Salat Jumat Dua Gelombang, MUI: di Lebak Enggak Bisa Diterapkan

Warga Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak usai melaksanakan ibadah salat jumat di Masjid Agung Al-Araf, Jumat, 20 Maret 2020. (BantenHits.com/Fariz Abdullah)

Lebak- Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatur pelaksanaan salat jumat di tengah Pandemi Corona. Berdasarkan surat edaran (SE) Nomor 105-Khusus/PP-DMI/A/VI/2020 tertanggal 16 Juni 2020, pelaksanaan salat Jumat bisa dibagi ke dalam dua gelombang.

SE yang ditandatangani Ketua Umum DMI Jusuf Kalla dan Sekjen DMI Imam Addaraqutni ini bertujuan untuk mencegah sebaran covid-19. Mereka juga melihat dalam pelaksanaan dua kali salat Jumat yang digelar pada masa transisi menuju new normal, jamaah secara umum menaati protokol kesehatan yang berlaku.

Namun sayang, penerapan salat jumat dua gelombang tidak bisa diterapkan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lebak menyatakan tidak setuju dengan penerapan salat Jumat dua gelombang berdasarkan ‘ganjil genap’ nomor telepon seluler. Masyarakat Lebak tetap melaksanakan salat Jumat dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Di Lebak tata cara salat Jumat seperti itu enggak bisa diterapkan, khawatir menimbulkan kegaduhan. Karena itu, salat Jumat tetap digelar satu gelombang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Ketua MUI Lebak KH Pupu Mahpudin.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussaadah, Kecamatan Cimarga ini menjelaskan tidak semua masyarakat di 28 kecamatan memiliki telepon seluler. Bahkan, jamaah salat Jumat jarang sekali membawa telepon seluler. Jika tata cara tersebut dilaksanakan maka pengurus masjid akan kesulitan melakukan seleksi terhadap jamaah yang salat Jumat.

“Butuh waktu lama untuk menyeleksi nomor telepon seluler jamaah. Jadi saya tegaskan pola tersebut enggak bisa diterapkan. Jika ada warga yang enggak kebagian tempat untuk salat karena menerapkan physical distancing maka disarankan mencari masjid yang masih kosong,”ungkapnya.

Editor: Fariz Abdullah