Dendam Kematian Jenderal Qassem, Iran Desak Interpol Tangkap Trump

JawaPos.com – Iran pernah berjanji akan membalas dendam tindakan Amerika Serikat yang telah membunuh pimpinan militer Jenderal Qassem Soleimani pada Januari lalu. Luka atas insiden itu membuat seorang jaksa penuntut Teheran telah meminta bantuan internasional untuk menahan orang-orang yang terlibat dalam serangan pesawat tak berawak yang menewaskan sang jenderal. Tak terkecuali perintah untuk menangkap Presiden Donald Trump.

Iran telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Presiden Trump dan 35 orang lainnya yang disebut terlibat dalam serangan itu. Jaksa penuntut utama Teheran, Ali al-Qasimehr, mengatakan dalam laporan bahwa mereka yang terlibat dan menjadi otak pembunuhan Jenderal Qassem, akan ditangkap seperti dilansir dari New York Times , Rabu (1/7).

Komentar itu muncul selama pertemuan dengan tokoh-tokoh yudisial, menurut kantor berita ISNA. Al-Qasimehr menambahkan bahwa Iran bermaksud untuk mengejar proses penuntutan Trump bahkan setelah masa jabatan presidennya berakhir.

“Otoritas pengadilan telah memerintahkan surat perintah penangkapan untuk mereka yang terlibat dan pemberitahuan peringatan melalui polisi internasional,” ungkap Al-Qasimehr.

Dia juga mengatakan bahwa permintaan untuk kerja sama telah diserahkan kepada Interpol, sebuah organisasi kepolisian internasional yang memasukkan Amerika Serikat dan Iran sebagai anggotanya.

Mungkinkah Interpol bersedia? Interpol mengatakan dalam pernyataan sangat dilarang bagi organisasi untuk melakukan intervensi atau kegiatan apa pun yang bersifat politik, militer, agama atau karakter ras. Interpol tak secara tegas menyatakan pernyataan itu untuk Iran.


Jenderal Qassem Soleimani (tengah) semasa hidup (EPA)

“Oleh karena itu, jika permintaan tersebut dikirim ke Sekretariat Jenderal, sesuai dengan ketentuan konstitusi dan peraturan kami, Interpol tidak akan mempertimbangkan permintaan seperti itu,” tegas Interpol.

Pemberitahuan ‘peringatan merah’ organisasi bukan berarti punya kekuatan seperti surat perintah penangkapan. Surat tersebut dikirim sebagai permintaan kepada penegak hukum di seluruh dunia untuk mencari dan menangkap seseorang yang sedang menunggu ekstradisi, menyerah, atau tindakan hukum serupa.

Seperti diketahui, militer Amerika Serikat membunuh Jenderal Qassem pada Jumat (3/1), dalam serangan udara di luar Bandara Internasional Baghdad. Kondisi ini mengejutkan Iran dan memicu kekhawatiran perang baru di Timur Tengah.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berjanji akan membalas dendam dan menyatakan tiga hari berkabung. Jenderal yang meninggal pada usia 62 tahun tersebut adalah salah satu tokoh publik paling populer di Iran. Setelah bertugas dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988, Jenderal Qassem dengan cepat naik pangkat menjadi komandan Pasukan Quds.

Dia menjadi salah satu target paling dicari Israel dan AS. Jenderal Qassem adalah arsitek kebijakan regional Iran untuk memobilisasi milisi di seluruh Irak, Syria, dan Lebanon, termasuk dalam perang melawan kelompok ISIS. Dia juga disalahkan atas serangan terhadap pasukan AS dan sekutu Amerika pada dekade yang lalu.

Saksikan video menarik berikut ini: