Jalani Ribuan Kali Cuci Darah, Wanti Terbantu Program JKN-KIS

TIGARAKSA – Purwanti Nugroho (37) sudah menjalani cuci darah atau hemodialisa sejak tahun 2007. Akibat gagal ginjalnya itu, wanita yang biasa dipanggil Wanti itu mengharuskan dirinya menjalani hemodialisa yang rutin ia lakukan setiap dua kali dalam seminggu. Kadang, ketika kondisi kesehatannya menurun, ia harus melakukan hemodialisa di luar jadwal rutinnya.

“Awalnya gejala yang saya rasakan seperti orang sakit maag, mual-mual. Ternyata waktu saya periksa, dokter mendiagnosa saya menderita gagal ginjal. Jika dihitung-hitung, sudah 13 tahun saya menjalani hemodialisa ini,” ungkap Wanti, Selasa (18/02).

Sejak 2007, Wanti mengandalkan jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah untuk menemaninya menjalani hemodialisa. Wanti merupakan peserta Program Jamkesmas yang pada tahun 2014 penyelenggaraannya dilakukan oleh BPJS Kesehatan. Di tahun 2014, ia memindahkan segmen kepesertaannya menjadi peserta mandiri. Kemudian di tahun 2016, ia diberi amanah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Daerah.

“Sekarang saya menjadi peserta JKN-KIS yang iurannya dibayarkan melalui potongan gaji saya sebagai PNS Daerah. Selama menjadi peserta, baik program Jamkesmas maupun Program JKN-KIS, saya merasa tidak ada perbedaan pemberian pelayanan oleh fasilitas kesehatan, semuanya sama-sama baik,” kata wanita yang merupakan salah seorang guru di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri ini.

Wanti mengaku selama bertahun-tahun menjalani hemodialisa, ia tidak mengetahui, bahkan tidak berusaha mencari tahu, berapa sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan jika ia harus membayar sendiri. Yang ia tahu, pasti sudah memakan biaya yang sangat besar karena ia sudah ribuan kali melakukan cuci darah.

“Setiap saya hemodialisa, suami saya yang selalu mengurus. Bahkan suami saya juga tidak tahu berapa biaya sekali hemodialisa. Yang pasti besar sekali biayanya. Beruntung ada jaminan kesehatan yang bisa menjamin biaya hemodialisa saya selama belasan tahun ini. Kalau dihitung-hitung, iuran yang saya bayarkan sejak tahun 2014 jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan biaya hemodialisa saya,” tutur Wanti.

Oleh karena itu, Wanti sangat berharap Program JKN-KIS ini terus ada. Sudah banyak pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa rutin merasa terbantu dengan kehadiran program ini. Ia juga berharap semoga ke depannya kualitas pelayanan bagi peserta JKN-KIS terus meningkat.

(Adv/Mul/Fin)