BERITA Surabaya Hari ini Populer: Penyesalan 3 Mama Muda Joget TikTok, Adik Via Vallen Lapor Polda

SURYA.co.id - Berikut Berita Surabaya hari ini populer edisi Minggu 5 Juli 2020, yang merangkum sejumlah berita menarik di Surabaya dan sekitarnya.

Berita Surabaya hari ini populer yang pertama adalah penyesalan 3 mama muda yang viral joget TikTok di Jembatan Suramadu .

Kepada polisi, ketiga mama muda itu mengaku awalnya spontan turun ke lajur kiri Jembatan Suramadu karena melihat pemandangan jembatan yang bagus untuk bermain TikTok .

Lalu, ada juga berita tentang keluarga Via Vallen yang kini didera masalah penghinaan dan fitnah.

Adik Via Vallen , Mella Rosa dan Selly Kuindra melapor ke Polda Jatim pada Sabtu (4/7/2020) atas dugaan penghinaan.

Berikut ulasan selengkapnya Berita Surabaya hari ini populer edisi Minggu, 7 Juli 2020.

1. Penyesalan 3 mama muda joget TikTok


3 mama muda membuat surat pernyataan minta maaf setelah video joget TikTok di Jembatan Suramadu viral di media sosial. Mereka dipanggil ke Polres Tanjung Perak dan dikenai tilang. (SURYA.co.id/Firman Rachmanudin)

Setelah viral 3 mama muda joget TikTok lagu India di Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), polisi kini telah mengamankan ketiganya dan terungkap identitas mereka.

Tiga mama muda itu ternyata warga Tambak Gringsing, Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Ketiga mamah muda itu diketahui bernama Hurrimah, Lilik Rupiati dan Siri Suriya.

Kepada polisi, ketiga mama muda itu mengaku awalnya spontan turun ke lajur kiri Jembatan Suramadu karena melihat pemandangan jembatan yang bagus untuk bermain TikTok .

Setelah itu, ketiganya memposting joget TikTok tersebut hingga membuatnya viral.

Hal itu membuat kepolisian memburu ketiganya dan memanggilnya untuk diperiksa, Sabtu (4/7/2020).

Ketiganya pun mengakui kesalahannya dan membuat surat pernyataan permohonan maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.

"Saya minta maaf untuk masyarakat Indonesia terkait apa yang sudah kami bertiga lakukan."

"Mohon untuk tidak ditiru karena sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain," kata Hurrimah salah satu emak-emak yang lakukan joget TikTok .

Saat di Mapolres Tanjung Perak, ketiga mama muda itu masih kompak mengenakan baju kuning, sepatu kuning, dan jilbab hitam ada motif belang-belang mirip bulu harimau seperti di dalam video TikTok .

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Gamis Setyaningrum mengatakan, meski mereka sudah menyesal dan meminta maaf, polisi tetap melakukan tindakan tegas dengan menilang para pembuat video TikTok tersebut.

"Ketiganya kami kenakan tindak tilang sesuai dengan pasal 287 ayat 1 juncto pasal 106 ayat 4 huruf A dengan denda maksimal Rp 500.000," kata Ganis, Sabtu (7/4/2020).

Lebih lanjut, Ganis mengatakan pihaknya akan terus memantau dan melakukan patroli di Jembatan Suramadu setelah viral joget TikTok emak-emak tersebut.

"Nantinya kami akan rutin patroli agar tidak ada kejadian semacam ini lagi.

Sebab sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain, karena laju kendaraan di area tersebut terbilang tinggi ditambah kecepatan angin karena berada di atas selat Madura," tandasnya.

2. Adik Via Vallen lapor ke Polda Jatim

Masalah yang menimpa keluarga VIa Vallen belum juga reda.

Belum tuntas kasus pembakaran mobil Alphard, keluarga Via Vallen kini didera masalah penghinaan dan fitnah.

Dugaan penghinaan itu dilaporkan adik Via Vallen Mella Rosa dan Selly Kuindra dari pihak ke Polda Jatim , Sabtu (4/7/2020).

Saat menuju tempat parkir mobil, pihaknya pun meladeni pertanyaan wartawan terkait maksud kedatangannya.

Mella Rosa mengatakan, pihaknya sedang melaporkan seseorang yang dianggap telah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik keluarga.

Bentuk perlakuan itu seperti penghinaan dan fitnah di media sosial.

"Ada penghinaan, fitnah juga iya," kata Rosa, Sabtu (4/7/2020).

Namun, ia menampik saat ditanya apakah penghinaan itu berangkat dari kasus pembakaran mobil yang terjadi beberapa hari lalu di kediamannya.

"Bukan, beda kasus baru lagi," ucapnya.

Kata Mella, oleh polisi laporannya akan dilanjutkan pada Senin esok (6/7/2020).

"Eh.. bertemu dengan pihak sibernya nanti hari Senin," katanya.

Sebelum keduanya memasuki mobil, untuk bergegas meninggalkan Polda Jatim , Selly menuturkan masalah ini sudah lama membuat geram pihak keluarga.

"Dari dulu yang merasa geram itu keluarga. Kalau Mba Via sudahlah. Berhubung kemarin ada kasus (pembakaran mobil), katanya pak polisi bisa dinaikkan meski keluarga yang melaporkan. Makanya kita jalan," bebernya.

Kendati demikian, saat ditanya siapa yang melakukan hal tersebut, Selly kembali irit bicara.

"Nanti aja kalau itu," tandasnya.

3. RSUD Dr Soetomo Tanggapi Usul Wali Kota Risma


Trungkap Reaksi Wali Kota Risma Saat Gugus Tugas Covid-19 Jatim Sebut Surabaya Bisa Seperti Wuhan (SURYA.CO.ID/YUSRON NAUFAL PUTRA)

RSUD Dr Soetomo tanggapi usul Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini tentang memulangkan pasien Virus Corona atau COVID-19 sekali tes Swab.

Diketahui Wali Kota Risma mengusulkan supaya pasien COVID-19 bisa pulang setelah mendapat satu kali hasil swab test negatif.

Padahal menurut protokol rumah sakit, tes Swab seharusnya dilakukan 2 kali baru pasien boleh pulang.

Saran Wali Kota Risma ini bertujuan agar rumah sakit tidak membeludak.

Selain itu juga, berkaitan dengan permintaan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu kepada Jawa Timur (Jatim), untuk menurunkan kurva jumlah penularan dalam dua minggu.

Mrnanggapi hal itu, Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo, Pesta Parulian Edward menyambut baik usulan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini .

Pesta mengatakan, RSUD dr Soetomo bersedia memulangkan pasien yang sehat secara klinis meski baru sekali mendapatkan hasil negatif tes swab.

Asal, pasien tersebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Surabaya.

RSUD Soetomo akan memberikan catatan kepada pasien yang dipulangkan itu.

Seperti, baru satu kali melakukan tes swab atau pasien sudah baik secara klinis.

"Jadi seperti itu, kalau swab yang kedua itu nanti urusan dinas kesehatan setempat, apakah puskesmas apakah dinas kesehatan kotanya, untuk men-tracing, mengawasi, dan memberikan edukasi," kata Pesta saat melansir Kompas.com berjudul " Risma Usul Pasien COVID-19 Sekali Swab Bisa Pulang, Ini Tanggapan RSUD ", Jumat (3/7/2020).

Selain itu, Pesta juga meminta Pemerintah Kota Surabaya menjamin pasien itu diterima lingkungan sekitar.

Karena, ada beberapa pasien positif Covid-19 yang belum mendapatkan dua kali hasil negatif tes swab takut pulang ke rumah. Padahal, pasien itu telah sembuh secara klinis.

Mereka, kata Pesta, khawatir dikucilkan masyarakat.

Sebab, masyarakat mengetahui seseorang dinyatakan sembuh setelah mendapatkan dua kali hasil negatif tes swab.

Pihak rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT) harus berkoordinasi dengan puskesmas untuk mengawasi pasien itu.

"RT/RW harus berkoordinasi dengan puskesmas terdekat untuk mengawasi pasien tersebut, apakah bisa isolasi mandiri di lingkungannya," kata Pesta.

Pesta menegaskan, ada banyak pasien positif yang menjalani karantina mandiri.

Mereka tetap mendapatkan pengawasan dari perangkat RW, RT, dan tim medis dari puskesmas.

"Banyak kok pasien-pasien positif yang bisa isolasi mandiri. Yang penting adalah dia tetap bisa diawasi oleh RT/RW maupun puskesmas setempat. Kan udah ada kampung tangguh di Surabaya," kata dia.

Pesta menegaskan, RSUD Soetomo tak berniat menahan pasien di rumah sakit.

"Jadi kita bukan menahan pasien. Justru kalau misalnya bisa, pasien-pasien yang dirawat di RSUD Dr Soetomo ini adalah pasien yang memang sangat berat," kata Pesta.

Pesta menyarankan, pasien yang rumah atau lingkungannya tak memenuhi syarat karantina mandiri bisa dikarantina di rumah sakit lapangan, Hotel Asrama Haji Surabaya, dan RS Husada Utama. (Firman Rachmanudin/Tony Hermawan/Ghinan Salman/Putra Dewangga/Kompas.com/Surya.co.id)