Update Info UTBK di Surabaya: 3 Lokasi Tes yang Sediakan Rapid Test, Unair Siapkan 6 Tempat Ujian

SURYA.co.id - Simak update info terbaru tentang ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 di Surabaya.

Update info UTBK di Surabaya salah satunya adalah ada tiga pusat UTBK yang menyediakan rapid test sebelum ujian.

Hal ini sebagai upaya memfasilitasi rapid test bagi peserta UTBK yang kesulitan mendapat rapid test .

Lalu, update info lainnya yakni pusat UTBK Unair menyediakan enam lokasi pelaksanaan ujian tersebut.

Berikut ulasan selengkapnya update info UTBK di Surabaya hari ini, Minggu 5 Juli 2020.

1. Tiga Pusat UTBK di Surabaya Sediakan Fasilitas Rapid Test


Info UTBK 2020 Unair (Istimewa)

Pusat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 di Surabaya berupaya memfasilitasi rapid test bagi peserta UTBK yang kesulitan mendapat rapid test .

Pasalnya, persyaratan hasil rapid test non reaktif menjadi syarat wajib mengikuti UTBK dibuat Pemerintah Kota Surabaya tiga hari menjelang pelaksanaan UTBK 2020.

Rektor Universitas Airlangga (Unair) sekaligus ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Prof Moh Nasih mengungkapkan, rapid test akan disediakan di tiga pusat UTBK , yaitu di Unair , Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim.

"Kami sediakan untuk peserta yang memang kesulitan mencari tempat rapid test di daerahnya.

Karena bisa saja mungkin belum dapat fasilitas dari puskesmas di daerahnya," ujar Prof Nasih saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2020).

Dikatakannya, para peserta yang memang kesulitan rapid test diharapkan datang lebih awal saat ujian.

Sehingga bisa mengikuti rapid test di lokasi yang disediakan pusat UTBK .

"Ya besok yang belum punya surat keterangan rapid bisa datang mulai pukul 07.00 WIB, saat ini masih atur prosedurnya seperti apa," tegasnya.

Upaya ini dilakukan untuk memfasilitasi peserta yang mungkin kesulitan mencari tempat rapid test dengan tenggat waktu yang singkat.

Sekaligus bagi para peserta yang jauh dari Surabaya.

"Semua pusat UTBK di Surabaya kami usahakan menyediakan, bisa di poliklinik seperti di ITS dan UPN.

Kami juga ada, nanti kami sediakan KIT-nya jadi mereka yang di daerahnya tidak ada rapid test bisa kami bantu. KIT-nya gratis, kalau mau bayar ya silakan," lanjut Prof Nasih.

Untuk informasi lebih lanjut Prof Nasih menyarankan agar peserta bisa menelepon hotline UTBK dan datang lebih awal dari jadwal UTBK . Hotline UTBK Unair : 085100009201 – 088231902672 – 088231902673 – 082138611156.

2. Unair Sediakan Enam Lokasi Pelaksanaan UTBK


Pakar komunikasi politik Universitas Airlangga, Suko Widodo (istimewa)

Pusat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Unair menyediakan enam lokasi pelaksanaan ujian tersebut.

Yaitu di Kampus A, B dan C serta tiga lokasi di kampus mitra yakni Untag Surabaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Stesia. Keenam lokasi tersebut dipastikan sudah mematuhi protokol kesehatan.

Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair , Suko Widodo mencontohkan pelaksanaan UTBK dengan menerapkan protokol kesehatan di kampus C Unair .

Para peserta akan masuk secara terpusat untuk memudahkan pengawasan, yaitu di gerbang masuk dekat Airlangga Convention Center (ACC) untuk dicek suhu badan.

"Jika di atas ambang batas, maka akan dipulangkan. Tidak hanya itu, peserta boleh diantar hingga drop zone di lokasi yang sudah ditentukan," ujar Suko, Sabtu (4/7/2020).

Turun dari kendaraan, peserta diwajibkan mencuci tangan terlebih dulu.

Setelah itu, jika lokasinya di Kampus C, maka lokasi berada di Fakultas Farmasi lantai 6.

"Untuk menuju ke lantai 6 ada tiga lift yang tersedia dan masing-masing lift hanya boleh berisi empat orang. Jika ada antrean maka sudah diatur panitia sehingga antrean bisa berjarak," tegasnya.

Di lantai enam akan ada ruang transit sebelum memasuki ruangan ujian. Kursi di ruang transit juga sudah diatur sedemikian rupa.

"Kalau di ruang ujian, komputer yang berisi 126 buah itu hanya akan dipakai sebanyak 84. Ada beberapa komputer yang disilang agar ada jarak antara peserta yang satu dengan yang lain," jelas Suko.

Kemudian, peserta diwajibkan pakai masker dan sarung tangan kesehatan saat memulai ujian. Setelah ujian, sarung tangan harus langsung dibuang di tempat sampah yang sudah siapkan.

"Selain itu, sebelum pelaksaan tes kami semprot ruangan dengan disinfektan, setelahnya juga kami semprot ulang untuk sesi berikutnya.

Kami pikir itu sebagai langkah antisipasif agar penyebaran Covid-19 tidak terjadi,” pungkas Suko Widodo.

3. Respon Pemerhati Pendidikan soal rapid test jadi syarat wajib UTBK

Keputusan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang mewajibkan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 untuk menunjukkan hasil rapid test non reaktif atau PCR tes negatif mendapat respon dari berbagai kalangan.

Setelah SURYA.CO.ID melakukan penulusuran kepada beberapa peserta UTBK , mereka rata-rata menilai menjadi beban.

Pasalnya, aturan yang di keluarkan pada 2 Juli 2020 itu dianggap mendadak. Karena jarak rapid test dengan waktu pelaksanaan UTBK yang terbilang mepet.

Salah satu peserta UTBK Universitas Airlangga Surabaya Jurusan Psikologi, Achmad Anfasa mengaku merasa kebingungan dengan munculnya peraturan hasil rapit test non reaktif sebagai syarat UTBK .

"Sebelumnya (Saat sebelum ada aturan rapid test ) saat pendaftaran UTBK itu saya tanya kepada panitia pakai test rapid nggak pak, mereka bilang tidak diwajibkan.

Eh tiba-tiba kemarin tanggal 2 dikabarin rapid test jadi syarat wajib ikut UTBK ," ujar calon mahasiswa dari Surabaya itu saat melakukan rapid test di Klinik Modern Dasa Medika Surabaya, Sabtu (4/7/2020).

Tak hanya itu, ia juga merasa kesusahan saat mencari tempat untuk melakukan rapid test yang murah.

"Saya tanya ke teman-teman di mana rapid test yang paling murah. Jadi saya tanya yang sudah melakukan rapid test. Ditambah lagi saya awalnya takut ngomong sama orang tua, karena harus keluar uang yang tidak sedikit untuk tes," ujarnya.


Calon mahasiswa saat menjalani rapid test di Klinik Modern Dasa medika, Jalan Diponegoro Surabaya, Jumat (3/7/2020) kemarin. (SURYA.CO.ID/Ahmad Zaimul Haq)

Sementara itu, dr Shelivia Destiana selaku dokter umum yang bertugas untuk melakukan test terhadap mahasiswa menilai rapid test ini tidak efisien untuk dilakukan.

"Menurut saya sih tidak efisien, karena sebetulnya dengan menerapkan phisycal distancing saat ujian saya rasa itu sudah cukup.

Tapi, mungkin karena jumlah kasus di Surabaya tertinggi dibanding daerah lain (black zone) yang membuat aturan ini kemudian diberlakukan," ungkapnya.

"Saya tidak bisa menjamin, karena rapid test sebetulnya hanya screnning awal, tingkat akurasinya hanya 30-40 persen," imbuh dr Shelivia.

Dibalik itu semua, lanjutnya, ia mengaku justru iba kepada para peserta UTBK yang harus terburu-buru untuk melakukan tes.

"Mereka (peserta UTBK ) sampai harus keluar kota untuk bisa test, karena di mana-mana penuh dan antre hingga ke jalan," ujar dr Shelivia.

Di lain pihak, Pemerhati Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Martadi M.Sn menilai Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan aturan tersebut didasari prinsip kehati-hatian dikarenakan ada ribuan orang dari berbagai daerah di Jatim atau luar jatim dengan kondisi daerah yang beragam (ada merah, orange, kuning, hijau) yang masuk wilayah Surabaya.

"Kondisi Surabaya masih kategori merah, dilihat dari sisi positifnya saja, mungkin pemerintah kota berniat untuk memastikan penyebaran Covid-19 di Surabaya tidak bertambah," kata Martadi kepada SURYA.CO.ID, Sabtu (4/7/2020).

Namun sejatinya, penyelenggaraan UTKB sepenuhnya ada di Dirjendikti Kemdikbud atau perguruan tinggi pelaksana, di mana tidak mensyaratkan adanya rapid test atau swab.

"Secara aturan bagi calon mahasiswa yang membawa atau tidak hasil rapid test , peserta tetap punya hak untuk mengikuti UTBK , Karena test rapid hanya syarat untuk memasuki wilayah Surabaya dalam rangka akan mengikuti test UTBK , bukan syarat mengikuti UTKB itu sendiri," ujarnya.

Karena aturan tersebut terbilang mendadak, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Unesa ini menawarkan beberapa solusi agar UTBK dapat berjalan dengan baik.

Pertama, perlu diperbanyak tempat untuk bisa test rapid agar tidak terkonsentrasi di satu tempat.

Kedua yang dari luar daerah disarankan test rapid di wilayah masing-masing.

Ketiga, bagi anak Surabaya yang tidak mampu, harus difasilitasi agar tidak terbebani biaya.

Keempat, apabila ada anak yang reaktif, maka harus diperbolehkan ujian susulan agar tidak menghilangkan hak anak. Segera difasilitasi untuk rescheduling UTBK susulan.

Kelima, kalau terjadi kemungkinan paling buruk, anak tidak sempat rapid test karena sesuatu hal, maka tetap harus dibolehkan tetap mengikuti UTKB. Karena yang memutuskan boleh tidaknya test adalah panitia penyelenggara, bukan pemerintah kota.

Dan yang terakhir panitia UTBK dan gugus tugas Covid Jatim dan Surabaya harus saling bersinergi untuk memastikan UTKB berjalan lancar dan Covid-19 di Jatim tetap bisa dikendalikan. (Sulvi Sofiana/Zainal Arif/Putra Dewangga/Surya.co.id)