2 Mahasiswa dan Dosen Kedokteran di Sultra Positif COVID-19

Kasus positif COVID-19 di Sulawesi Tenggara (Sultra) bertambah sebanyak 4 kasus baru pada Sabtu (4/7). Hal itu berdasarkan rilis Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan COVID-19 Sultra.

Juru Bicara (Jubir) Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Sultra, Rabiul Awal mengatakan dengan adanya penambahan tersebut, kasus positif COVID-19 di Sultra meningkat menjadi 479, dimana pada hari sebelumnya diketahui jumlah kasus positif COVID-19 berjumlah 475 kasus.

"Kasus baru tersebut terdiri dari Kota Kendari 3 orang dan dan Kolaka Utara 1 orang," paparnya.

Setelah ditelusuri, tiga kasus baru diantaranya berasal dari Kota Kendari. Hal itu berdasarkan keterangan Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Kendari, Alghazali Amirullah. Ia mengungkapkan ketiganya merupakan kasus yang berasal dari salah satu perguruan tinggi.

"Tiga kasus itu berasal dari salah satu universitas di Kota Kendari. Dengan penyebaran transmisi lokal," ungkap Alghazali, Sabtu malam.

Sementara itu, kendarinesia/kumparan mencoba mengkonfirmasi Kepala Bagian Humas Universitas Haluoleo, La Ode Abdul Hamdan. Hamdan mengungkapkan bahwa sebelumnya ada penemuan kasus positif di Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo.

"Kalau info terbaru itu saya belum tahu. Yang jelas beberapa hari lalu ada anak (mahasiswa fakultas) kedokteran yang memang positif datang bersama ibunya dan juga kakaknya saat ujian,” ujar Hamdan.

Mahasiswa tersebut diketahui sebelumnya telah melakukan Swab test di Rumah Sakit Bahteramas bersama keluarganya yang lain. Namun, belum sempat memperoleh hasil tes COVID-19, karena terkendala jadwal ujian perkuliahan, akhirnya ia pun mengikuti ujian di kampus.

Lanjutnya, sekitar 40 orang yang mengikuti ujian bersama dengan mahasiswa positif COVID-19 itu hingga saat ini telah mengikuti pemeriksaan rapid test dan swab untuk mendeteksi adanya penularan.

"Sudah kita tes semua (rapid test dan swab) hasilnya negatif," tandasnya.

Ketika disinggung terkait adanya ujian tatap muka ditengah pandemi ini, Hamdan menjelaskan bahwa ada beberapa proses perkuliahan yang tidak bisa dilakukan dengan metode daring (jarak jauh). Namun, dalam prosesnya, pihak kampus sudah menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

"Di Kedokteran ini memang ada yang tidak bisa diujiankan daring. Jadi memang harus bertatap muka secara langsung, namun protokol COVID-19 juga tetap kita jaga dengan memberlakukan penggunaan masker dan sosial distancing," tutupnya.

***

Geraldy Rakasiwi