WHO Sebut Hanya Jakarta yang Penuhi Standar Minumun Tes Corona di Jawa

Minggu, 05/07/2020 10:59 WIB

WHO Sebut Hanya Jakarta yang Penuhi Standar Minumun Tes Corona di Jawa. (Detik)

Jakarta, law-justice.co - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan hanya Provinsi DKI Jakarta satu-satunya wilayah di Pulau Jawa yang memiliki pengujian Covid-19 di atas standar minimum.

Pernyataan ini disampaikan WHO dalam laporan situasi Covid-19 di Indonesia yang dipublikasikan mereka hari Rabu (1/7) lalu.

Dalam laporan tersebut, mereka mengatakan Jakarta telah mampu menggelar tes minimum di atas satu per seribu orang.

Bahkan menurut laporan itu juga, pada pekan ketiga Juni jumlah tes di Ibu Kota berada di angka 2 per seribu penduduk.

Sedangkan untuk angka rasio positif corona di Jakarta hingga minggu ketiga bulan lalu hanya sedikit di atas ambang batas yang ditetapkan WHO yakni 5%.

“Persentase sampel positif hanya dapat ditafsirkan dengan pengawasan dan pengujian kasus yang dicuriga sesuai urutan 1 per 1.000 penduduk per minggu,” ungkap laporan tersebut seperti melansir katadata.co.id.

Laporan itu juga membandingkan lima provinsi lain di Jawa hanya memiliki rasio tes di bawah 0,5 per 1.000 penduduk tiap pekannya.

Menurut WHO, di Jawa Timur, meski positivity rate berkisar antara 25% hingga 35% selama Juni, namun angka tersebut didapatkan dari jumlah tes yang rendah.

Disisi lain, WHO menyampaikan secara umum bahwa risiko penularan corona di Indonesia tinggi karena pergerakan masyarakat antar kabupaten dan provinsi tetap tinggi.

Selain itu penambahan kasus Covid-19 telah menembus angka di atas seribu orang per hari sejak 9 Juni lalu.

“Tingkat relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga berbeda-beda di setiap provinsi,” ungkap laporan tesebut.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan, hingga hari Senin (29/6) jumlah uji spesimen di DKI Jakarta mencapai 21.406 per sejuta penduduk.

Angka ini kata dia, jauh di atas Jatim yang hanya mampu menggelar uji 1.428 sampel per sejuta populasi.

“Perlu upaya pemeriksaan laboratorium berbasis polymerase chain reaction (PCR) lebih masif,” tegasnya.